ADAB PAK BAS MENJUNJUNG ULAMA: CERMIN IKN BERBUDAYA.
Kandilo.com; IrmaJaya


Sepaku – Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.
Pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menemukan makna nyatanya dalam sosok Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Basuki Hadimulyono. Bukan melalui pidato panjang atau seremoni resmi, melainkan lewat gestur sederhana yang sarat nilai: menjunjung adab dan memuliakan ulama.
Pada sebuah kesempatan kebersamaan yang berlangsung hangat, saat mencicipi hidangan bersama tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Basuki—yang akrab disapa Pak Bas—terlebih dahulu menyerahkan piring berisi nasi dan lauk kepada KH Ali Kholil, Dewan Syuro PW NU Kalimantan Timur.
Sebuah tindakan kecil, namun mencerminkan kebesaran sikap seorang pemimpin negara.Gestur itu sontak menjadi perhatian. Dalam budaya Nusantara, khususnya di Kalimantan, menghormati yang lebih alim dan dituakan adalah bagian dari adab luhur yang dijunjung tinggi. Lebih-lebih dalam tradisi NU, ulama bukan sekadar tokoh agama, melainkan penyangga moral, budaya, dan harmoni sosial.
Sikap Pak Bas tersebut dinilai selaras dengan semangat membangun IKN sebagai ibu kota yang bukan hanya modern secara fisik, tetapi juga beradab secara sosial dan spiritual. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Dalam konteks pemerintahan, tindakan ini memantulkan wajah kepemimpinan yang mendahulukan etika sebelum protokoler. Tidak ada jarak kekuasaan yang kaku, tidak pula simbol dominasi jabatan.
Yang hadir justru keteladanan: pemimpin negara yang tahu kapan harus menempatkan diri, membaca ruang sosial, dan menjunjung nilai-nilai lokal.Para tokoh NU yang hadir memandang sikap tersebut sebagai cerminan keikhlasan dan penghormatan tulus.
Bagi mereka, penghormatan kepada ulama bukan perkara formalitas, melainkan pengakuan atas peran historis dan moral dalam menjaga persatuan bangsa.Momentum sederhana itu sekaligus memperkuat pesan besar pembangunan IKN. Bahwa ibu kota masa depan Indonesia tidak hanya dibangun dengan beton, baja, dan teknologi tinggi, tetapi juga dengan adab, keteladanan, serta penghormatan pada nilai-nilai luhur Nusantara.
Di tengah masifnya pembangunan fisik, sikap Pak Bas menjadi penanda penting: IKN diarahkan tumbuh sebagai pusat pemerintahan yang berkeadaban, tempat modernitas berjalan seiring dengan tradisi, dan kekuasaan berdampingan dengan kebijaksanaan.
Sebagaimana pepatah lama mengajarkan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dan di tanah Kalimantan, Pak Bas telah menunjukkan bagaimana seorang pemimpin negara menjunjung langit budaya dengan penuh hormat.
Bersambung


