TK AL IKHLAS AJAK SISWA TAMPIL JADI PEJUANG PEMADAM KEBAKARAN.
Kandilo.com ; IrmaJaya

Siswa kompak mandi hujan ala PMK;

Gambar; Umar Fathan siswa pemberani ; mandi hujan semarak siswa ber basah basah dan Nuryati Yahya Wakil Ketua Yayasan ( create by Kandilocom)
Tanah Grogot Paser Kalimantan Timur;
Belajar Keberanian di Markas Damkar, Hari Spesial Siswa TK Al Ikhlas Tanah Grogot
Jum’at (2/02) menjadi hari yang tak biasa—bahkan terasa istimewa—bagi siswa TK Al Ikhlas Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Pagi itu, dengan langkah kecil yang rapi dan wajah penuh rasa ingin tahu, mereka berbaris kompak menuju kantor induk (sentral) Pemadam Kebakaran (PMK).
Maklum, bagi anak-anak usia taman kanak-kanak, kunjungan ke markas PMK adalah pengalaman langka.
Lokasi kantor yang berada di persimpangan padat—antara Jalan Utama Dua Jalur Jenderal Sudirman, Jalan Ahmad Yani, dan ruas Noto Sunardi—mendadak menjadi pusat perhatian.
Warga yang melintas memperlambat laju kendaraan, sebagian berhenti sejenak, terpikat oleh pemandangan tak biasa: keceriaan anak-anak TK memenuhi halaman sentral PMK.
Pagi itu seolah menjadi “pertunjukan gratis”. Bukan hanya bagi orang tua siswa TK Al Ikhlas, tetapi juga bagi masyarakat Tanah Grogot yang menyaksikan langsung kegiatan edukatif tersebut.
Daya tariknya jelas: anak-anak mengenakan seragam khusus pemadam kebakaran anti air, lengkap dengan helm mungil yang membuat mereka tampak seperti petugas sungguhan.
Yang paling menyedot perhatian, beberapa siswa mendapat kesempatan naik ke atas mobil pemadam kebakaran di bawah bimbingan ketat petugas.
Bahkan, mereka diizinkan memegang nosel penyemprot air bertekanan—tentu dengan pengawasan penuh. Salah satunya adalah Umar Fathan As Shidiqi. Meski masih duduk di bangku TK, Fathan bukan nama asing di sekolahnya. Ia pernah meraih Juara III pada kompetisi gulat tingkat Kalimantan Timur yang digelar di GOR Tapis Tanah Grogot.
Fathan—begitu ia akrab disapa—masih sangat belia. Mengikuti kejuaraan olahraga berbasis berat badan di usia TK jelas bukan perjuangan mudah. Namun justru di situlah ketangguhan kecilnya mulai ditempa.
Momen paling mengundang tawa dan sorak kegembiraan terjadi saat aksi penyemprotan air ke udara. Bagi siswa TK Al Ikhlas, semburan air itu tak ubahnya hujan buatan. Mereka berlarian, tertawa, dan menikmati “mandi hujan bersama”—sebuah kebahagiaan sederhana yang lekat dengan dunia anak-anak. Dimana sesi tersebut dilakukan setelah pertunjukan praktek pemadaman sebuah tabung gas.
Wakil Ketua Yayasan TK, Nuryati, mengaku bangga dengan kegiatan out class activity tersebut. Menurutnya, pengenalan lingkungan sejak dini memang menjadi bagian dari program sekolah.
“Kegiatan seperti ini kami rancang agar anak-anak bisa bersinergi dengan lingkungannya. Harapannya, pengalaman ini tersimpan dalam motorik dan psikologi mereka, hingga kelak dewasa dan mampu menilai peristiwa di sekitarnya secara objektif,” ujarnya.
Antusiasme tak hanya datang dari siswa. Seorang ibu orang tua murid bahkan ikut terkena percikan air PMK saat mendekat untuk melihat dari dekat.
“Kami juga kena siraman air,” katanya sambil tertawa, menganggap hal itu sebagai konsekuensi wajar dari kedekatan orang tua yang ingin menyaksikan langsung respons putra-putri mereka.
Kegiatan edukatif ini diawali dengan makan bersama. Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, momen tersebut juga dimaksudkan mempererat kebersamaan antar siswa—bekal sosial penting menuju masa depan mereka.
“Asupan makanan bergizi dengan menu yang berganti-ganti sudah lama kami terapkan, jauh sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan,” ungkap guru guru TK Al Ikhlas hlas kepada media Kandilcom, disambut anggukan para orang tua siswa
Hari itu, di halaman markas Damkar Tanah Grogot, anak-anak TK Al Ikhlas bukan hanya belajar tentang profesi pemadam kebakaran. Mereka belajar tentang keberanian, kebersamaan, dan kegembiraan—pelajaran kecil yang kelak mungkin tumbuh menjadi kenangan besar.
